TUGAS 3 : PENGANTAR TELEMATIKA

Security concept: Cyber Crime on computer keyboard background

 

KASUS 1 : Polisi Bekuk Ribuan Penyebar SMS Palsu

 Untuk memerangi aksi cybercrime yang semakin marak, pemerintah Tiongkok gencar melakukan sejumlah program. Hasilnya pun kini sudah mulai terlihat.
Sejak dimulai bulan Februari 2014 lalu, program yang digagas oleh Menteri Pertahanan Tiongkok itu sudah meringkus sedikitnya 3.540 kriminal yang meresakan warga, khususnya di Beijing.
Selain menangkap para kriminal, program tersebut juga sudah berhasil menyita sekitar 2.600 BTS mobile palsu yang dipakai untuk menyebarkan SMS palsu. Seperti dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (2/4/2014).
Semua perangkat tersebut dipakai untuk mengirim pesan sampah ke pengguna ponsel terdekat dengan menggunakan nomor telepon abal-abal, atau mereka bisa juga menyamar sebagai sumber-sumber resmi. Misalnya saja dari pemerintah, instansi pembayaran, dan lain-lain.
Isi pesan sampah tersebut kebanyakan mengajak para calon korbannya untuk bertransaksi perbankan, tujuannya agar para penipu bisa mengambil alih akun para korbannya. Selain itu juga ada pesan cabul yang disebarkan oleh pelaku.
Pertumbuhan SMS spam di Tiongkok memang sudah sampai pada taraf meresahkan warga, bahkan ada sebuah grup spesialis pengirim spam yang sudah mengririmkan 200 juta pesan dalam satu wilayah, yakni di Liaoning.
Berbagai langkah pun dilakukan pemerintah Negeri Tirai Bambu untuk memerangi aksi kejahatan tersebut, termasuk melakukan sweeping di lokasi-lokasi yang dicurigai.
Sumber :
http://inet.detik.com/read/2014/04/02/143934/2543213/323/polisi-bekuk-ribuan-penyebar-sms-palsu

KASUS 2 : Polisi Tangkap 65 WNA Pelaku Cybercrime

Subdit IT Bareskrim Mabes Polri menangkap 65 Warga Negara Asing (WNA) yang terjaring dalam Telecommunication Fraud. 65 WNA itu merupakan jaringan kejahatan internasional yang berpusat di Tiongkok dan Taiwan.
“Kami berhasil menangkap 65 WNA, yang terdiri dari 28 orang warga negara Tiongkok dan 37 orang warga negara Taiwan. Mereka merupakan pelaku kasus kejahatan Telecommunication Fraud,” kata Kasubdit Cybercrime Bareskrim Mabes Polri, Kombes (Pol) Rahmat Wibowo, Kamis 20 November 2014.
Rahmat mengaku penangkapan tersebut, merupakan kerja sama antara Kepolisian Indonesia dengan Interpol Tiongkok dan Taiwan. Mereka ditangkap di tempat yang berbeda.
“Ditangkap di tiga tempat yang berbeda, di daerah Pondok Indah, Tomang, dan Tanjung Pinang,” katanya.
Saat melakukan penangkapan, petugas menyita sejumlah barang bukti pendukung aksi penipuan dan pemerasan yang mereka lakukan selama di Indonesia.
“Kami telah menyita barang bukti berupa komputer, router, modem, beberapa telepon genggam, dan peralatan komputer lainnya,” katanya.
Dalam aksinya, kata Rahman, mereka melakukan penipuan dan pemerasan dengan menggunakan teknologi internet dan telepon.
“Modus operansinya penipuan dan pemerasan kepada warga negara Tiongkok dan Taiwan di negara asalnya, dengan menggunakan internet dan telepon,” ujarnya.
Rahmat juga menjelaskan, selama 2014, pihaknya berhasil mengungkap dan menangkap sebanyak 347 WNA, terkait kejahatan cybercrime di Indonesia.
Dia menduga, maraknya pelaku cybercrime di Indonesia karena lemahnya pengawasan WNA yang masuk dan tinggal di Indonesia. “Pelaku memilih Indonesia menjadi tempat melakukan aksi kejahatannya, karena mudahnya WNA yang masuk ke Indonesia,” kata Rahmat.
Untuk melancarkan aksinya, para pelaku menyewa rumah kontrakan yang mewah dengan biaya sewa Rp50 juta per bulan dan pelaku berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak kejahatannya.
“Pelaku menyewa rumah kontrakan dengan biaya sewa 50 juta dan sering pindah kontrakan, agar jejaknya tidak terlacak,” kata Rahmat.
Setelah dilakukan penangkapan, Rahmat menegaskan, pihaknya akan memulangkan para pelaku ke negara asalnya untuk dilakukan proses hukum yang berlaku di negara masing-masing.
“65 WNA ini sudah di bawa ke bagian imigrasi dan akan dipulangkan, serta diproses hukum di negara asalnya,” ujarnya.
Sumber :
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/560511-polisi-tangkap-65-wna-pelaku-cybercrime

KASUS 3 : Cybercrime Serang 86% Pengguna Indonesia

Menurut laporan Norton Cybercrime Report, studi yang mengungkap tingkat penyebaran kejahatan cyber di Indonesia menyatakan sekitar 86 persen pengguna internet telah menjadi korban kejahatan cyber. Kejahatan meliputi virus komputer, penipuan online, dan phishing.
Laporan itu menyebutkan, wabah digital yang berlangsung diam-diam ini merupakan akibat dari ketidakpedulian konsumen, yang membuat mereka menjadi rentan dan terpapar ancaman di dunia online.
“Kami semua dirugikan karena kejahatan cyber, baik secara langsung maupun melalui biaya-biaya dari lembaga finansial,” kata Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocate and Consumer Business Head, Asia, Symantec, pada keterangannya, Rabu 29 September 2010.
Effendy menyebutkan, para penjahat cyber secara sengaja mencuri uang dalam jumlah kecil agar tidak terdeteksi. “Namun, jika dijumlahkan, nilainya akan besar. Jika tidak melaporkan kerugian, Anda sebenarnya membantu para penjahat tersebut tetap tidak terdeteksi,” ujarnya.
Menurut survei, ongkos paling mahal yang dikeluarkan pengguna dalam menyelesaikan kejahatan cyber adalah hilangnya uang dan waktu. “Dengan berbagai cara, korban harus membayar sebuah ‘harga’ dan dampaknya bukan hanya finansial, namun juga emosional,” tuturnya.
Studi yang pertama kali dilakukan itu juga mempelajari dampak emosional korban kejahatan cyber. Terungkap, reaksi terkuat dari para korban di Indonesia adalah marah (69 persen), merasa terganggu (57 persen), dan kecewa (57 persen).
“Meskipun dua dari lima orang Indonesia menyalahkan para penjahat di balik kejahatan cyber, ternyata sepertiga orang Indonesia merasa bertanggung jawab terhadap aktivitas penjahat cyber yang dihasilkan akibat perilaku mereka,” kata Effendy.
Sumber :
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/180160-cybercrime-serang-86–pengguna-indonesia

KASUS 4 : 45% Korban Cybercrime Tak Melapor

Memecahkan kejahatan cyber bisa sangat menjengkelkan. Berdasarkan laporan Symantec bertajuk Norton Cybercrime Report, hampir satu dari dua (45 persen) korban kejahatan cyber tidak pernah menyelesaikan secara tuntas kejahatan cyber yang mereka alami.

Padahal, sebanyak 86 persen pengguna yang disurvey mengaku pernah menjadi korban penjahat cyber.
Meski demikian, hal itu tidak mengejutkan jika mempertimbangkan bahwa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah akibat cybercrime tersebut rata-rata mencapai 36 hari. Selain itu, biaya yang dihabiskan rata-rata mencapai Rp11,56 juta.
“Orang-orang menolak melindungi diri dan komputer mereka karena mereka berpikir hal ini terlalu rumit,” kata Anne Collier, Co-director of ConnectSafely.org dan editor NetFamilyNews.org, yang bekerjasama dengan Symantec dalam melakukan penelitian tersebut.
Namun demikian, kata Collier, setiap orang bisa mengambil langkah-langkah sederhana, seperti mempunyai software keamanan lengkap yang up-to-date.
“Dalam hal kejahatan online, satu ons pencegahan sama dengan satu ton obat,” ucap Collier. “Pencegahan terbaik terhadap kejahatan cyber, dan cara terbaik untuk melindungi diri adalah menggunakan software keamanan lengkap yang selalu dimutakhirkan saat menjelajah internet,” ucapnya.

Sumber :
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/180241-45–korban-cybercrime-tak-melapor

KASUS 5 : Game Jadi Sasaran Empuk Kejahatan Siber

Seiring pertumbuhan smartphone, aplikasi perangkat ponsel pintar Android akan turut melonjak. Namun, sayangnya aplikasi tersebut menjadi ladang untuk melakukan kejahatan dengan menyusupi virus jahat dan ancaman peretas.
Kejahatan siber pada aplikasi itu karena dilatarbelakangi semakin banyaknya penggunaan perangkat mobile untuk bekerja maupun sebagai hiburan. Hal tersebut menjadi kesempatan para pejahat siber untuk menjadikan pengguna gadget sebagai serangan utama mereka.
Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh perusahaan keamanan global, Trend Micro, mengungkapkan tingkat ancaman malware dan peretasan di perangkat Android, secara akumulatif diprediksikan akan meningkat hingga delapan juta serangan sepanjang tahun 2015. Angka serangan tersebut meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
“Aplikasi game yang rentan peretasan masih menjadi sasaran utama para kriminal dunia maya,” ujar Terrence Tang, Senior Director Consumer Business APAC, Trend Micro, di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2015.
Hal ini, Tang melanjutkan, karena gaya kehidupan modern, di mana penggunaan perangkat mobile tak pernah lepas dari tangan. Banyak hal menarik di dunia maya, baik untuk mengakses kebutuhan hiburan digital seperti mobile gaming, media sosial, mengakses data-data penting, bahkan untuk melakukan transaksi keuangan melalui aktivitas mobile banking.
“Setidaknya ada 19 ribu aplikasi Paypal palsu di Google PlayStore,” kata dia.
Untuk mendukung terciptanya lingkungan yang aman dari serangan siber, Trend Micro melakukan kerjasama dengan enam pengembang permainan yaitu Toge Productions, Educa Studio, AMP Production, Mint Sphere, Arcane Factory, dan Sinergi Studio dalam Safe Gaming Alliance yang disepakati pada hari ini.
Perlindungan oleh Trend Micro mengenai kejahatan siber tersebut dilakukan melalui aplikasi Dr. Safety. Aplikasi keamanan besutan Trend Micro itu dapat diunduh secara gratis di PlayStore.
“Gaya hidup seperti ini sangat rentan terhadap serangan siber. Trend Micro sangat memahami bagaimana mengantisipasinya. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Dr. Safety, aplikasi keamanan yang dapat diandalkan untuk memberikan proteksi optimal pada perangkat mobile dari berbagai serangan siber melalui aplikasi game dengan konten berbahaya,” tutur dia.
Sumber :
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/589208-trend-micro–game-jadi-sasaran-empuk-kejahatan-siber

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s